Jumat, 17 April 2015

E-BUSINESS

E-BUSINESS

E-Business adalah Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi oleh organisasi, individu, atau pihak-pihak terkait untuk menjalankan dan mengelola proses bisnis utama sehingga dapat memberikan keuntungan; dapat berupa berupa  keamanan, fleksibilitas, integrasi, optimasi, efisiensi dan peningkatan produktivitas dan profit.
Aktivitas yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan proses pertukaran barang dan/atau jasa dengan memanfaatkan internet sebagai media komunikasi. sehingga melakukan transaksi bisa dilakukan dengan menggunakan internet.

 Kriteria E-Business :
1.     Adanya pembelian secara elektronik
2.     Adanya manajemen rantai suplai (SCM)
3.     Adanya pemrosesan order elektronik
4.     Adanya penanganan dan pelayanan kepada pelanggan
5.    Adanya kerjasama dengan mitra bisnis
6.    Adanya kemungkinan pertukaran data antar perusahaan melalui web ataupun internet

Contoh perusahaan E-Bussines adalah Dell (www.dell.com),
Dimana pengunjung (client) situs Dell akan dipandu untuk memilih produk yang Ia inginkan, didalam situs tersebut hanya akan berisikan tentang informasi suatu produk yang dipasarkan.
Tujuan Dell agar pengunjung tertarik akan produk yang ditawarkan. Dan pada situs ini tidak dapat melakukan transaksi pembelian pada saat itu juga melalui situs terrsebut. Hal ini dapat dikatakan e-bussines karena telah melakukan pemasaran dan pengelolaan marketing melalui teknologi informasi berbasis internet. Namun tidak dapat dikatakan sebagai e-commerce karena di dalamnya tidak terdapat aplikasi untuk transaksi pembelian secara online.

   
      Keuntungan / Manfaat E-Business :
1.    Memperluas pasar hingga mencakup pasar nasional dan pasar global, sehingga perusahaan bisa menjangkau lebih banyak pelanggan, memilih pemasok terbaik, dan menjalin relasi dengan mitra bisnis yang dinilai paling cocok.
2.  Menekan biaya menyusun, memproses, mendistribusikan, menyimpan, dan mengakses informasi berbasis kertas (paperbased information).
3.   Memungkinkan perusahaan untuk menerapkan mass customization terhadap produk dan jasanya.
4.    Menekan waktu antara pembayaran dan penerimaan produk/jasa.
5.    Meningkatkan produktivitas karyawan melalui rekayasa ulang proses bisnis.
6.    Menekan biaya telekomunikasi.
7.   Pembeli atau customer dapat dengan mudah melihat barang yang di produksi perusahaan tersebut melalui internet, sehingga tidak repot harus ke tempat hanya untuk melihat barang
8.  Fenomena jejaring (internetworking) memaksa perusahaan untuk bekerja sama dengan berbagai mitra bisnis untuk dapat menawarkan produk atau jasa secara kompetitif, sehingga kontrol kualitas, harga, dan kecepatan penciptaan sebuah roduk atau jasa kerap sangat ditentukan oleh faktor-faktor luar yang tidak berada di dalam kontrol perusahaan.



Selasa, 14 April 2015

Sistem Informasi

Sistem Informasi

Sistem Informasi merupakan hasil gabungan antara teknologi informasi dan aktivitas dari orang yang menggunakan teknologi itu guna mendukung kegiatan operasi dan manajemen dalam langkah mengambil keputusan yang tepat. Dalam arti luas, istilah sistem informasi mengacu pada interaksi seseorang, data, algoritma, dan teknologi. Dalam artian ini, sistem informasi tidak hanya digunakan untuk teknologi informasi dan komunikasi, melainkan juga untuk membantu seseorang dalam berinteraksi dengan teknologi guna mendukung kegiatan proses bisnis orang tersebut.


Sistem informasi menurut para ahli.

Menurut Tata Sutabri (2005 : 43) Sistem informasi adalah:
“suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan laporan – laporan yang diperlukan”.
 
Menurut  James A. O’Brien (2006 : 5) ”Sistem Informasi adalah kombinasi teratur apapun dari orang–orang, hardware, software, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang mengumpulkan, mengubah dan menyebarkan infomasi dalam sebuah organisasi”.

Menurut Wing Wahyu Winarto (2006 : 16) Sistem Informasi adalah “Sekumpulan komponen yang saling bekerja sama, yang digunakan untuk mencatat data, pengolahan data, dan menyajikan informasi untuk para pembuat keputusan agar dapat membuat keputusan dengan baik”.

Dari pengertian - pengertian diatas, maka dapat di simpulkan bahwa Sistem informasi adalah kombinasi teratur dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian untuk mendukung fungsi operasi organisasi untuk saling bekerja sama, yang digunakan untuk mencatat data, pengolahan data, dan menyajikan informasi untuk para pengambil keputusan.

Jumat, 18 Januari 2013

Metode Perancangan Sistem Informasi

Metode Perancangan Sistem Informasi

  • Waterfall Model

Waterfall Model adalah sebuah metode pengembangan software yang bersifat sekuensial dan terdiri dari 5 tahap yang saling terkait dan mempengaruhi seperti terlihat pada gambar berikut.

Keterkaitan dan pengaruh antar tahap ini ada karena output sebuah tahap dalam Waterfall Model merupakan input bagi tahap berikutnya, dengan demikian  ketidaksempurnaan hasil pelaksanaan tahap sebelumnya adalah awal ketidaksempurnaan tahap berikutnya. Memperhatikan karakteristik ini, sangat penting bagi tim pengembang dan perusahaan untuk secara bersama-sama melakukan analisa kebutuhan dan desain sistem sesempurna mungkin sebelum masuk ke dalam tahap penulisan kode program. Berikut adalah penjelasan detail dari masing-masing tahap dalam Waterfall model.
  1. Analisa kebutuhan. Analisa kebutuhan merupakan tahap pertama yang menjadi dasar proses pembuatan Tailor-made software selanjutnya. Kelancaran proses pembuatan software secara keseluruhan dan kelengkapan fitur software yang dihasilkan sangat tergantung pada hasil analisa kebutuhan ini. Untuk memperoleh informasi tentang proses bisnis dan kebutuhan perusahaan, umumnya tim pengembang melakukan wawancara, diskusi dan survey. Dalam proses wawancara, diskusi dan survey diperlukan komunikasi yang intensif dan terbuka antara tim pengembang dan tim counter-partner dari perusahaan. Selain itu, peran aktif dari manajemen sebagai pihak yang memahami seluk beluk perusahaan secara komprehensif juga diperlukan agar diperoleh informasi proses bisnis dan daftar kebutuhan perusahaan yang lengkap. Beberapa perusahaan membantu memperlancar penyelesaian tahap ini dengan terlebih dahulu menyusun scope of work software yang akan dibuat sebagai acuan kerja tim pengembang. Hasil analisa kebutuhan yang tidak lengkap berpotensi menyebabkan beberapa permasalahan yang tidak diharapkan, antara lain : waktu pembuatan software menjadi lebih lama, proses dalam software tidak sesuai dengan proses bisnis dan software tidak dapat memenuhi semua kebutuhan perusahaan. Untuk meminimalkan risiko ini, disarankan perusahaan melakukan konfirmasi pemahaman tim pengembang tentang proses bisnis dan kebutuhan perusahaan dengan cara meminta resume hasil analisa kebutuhan dan menyempurnakannya bersama tim pengembang jika diperlukan.
  2. Desain sistem. Desain sistem merupakan tahap penyusunan proses, data, aliran proses dan hubungan antar data yang paling optimal untuk menjalankan proses bisnis dan memenuhi kebutuhan perusahaan sesuai dengan hasil analisa kebutuhan. Dokumentasi yang dihasilkan dari tahap desain sistem ini antara lain : System Flow, Data Flow Diagram (DFD) dan Entity Relationship Diagram (ERD). System Flow merupakan bagan aliran dokumen dari satu bagian perusahaan ke bagian lain baik secara manual maupun melalui Sistem Informasi. Data Flow Diagram adalah diagram yang menunjukan aliran data di antara pengguna, proses dan database yang terkait dengan software. Entity Relationship Diagram merupakan diagram yang menunjukan bagaimana data dan informasi software akan di simpan di dalam database beserta dengan hubungan antar data. Seperti halnya tahap analisa kebutuhan, pada saat desain sistem selesai dibuat sebaiknya desain yang sudah dibuat pengembang didiskusikan dan disempurnakan oleh tim pengembang bersama dengan tim counter-partner dan manajemen perusahaan.
  3. Penulisan kode program. Penulisan kode program merupakan tahap penerjemahan desain sistem yang telah dibuat ke dalam bentuk perintah-perintah yang dimengerti komputer dengan mempergunakan bahasa pemrograman, middleware dan database tertentu di atas platform yang menjadi standar perusahaan. Bahasa pemrograman yang saat ini populer digunakan antara lain : Microsoft Visual Basic .Net untuk pembuatan software dalam kategori Desktop Application, PHP untuk pembuatan software dalam kategori Web Application dan Java untuk pembuatan software yang dapat berjalan di atas beberapa platform sistem operasi / multiplatform. Database yang saat ini banyak dipergunakan antara lain : ORACLE dan Microsoft SQL Server 2005 untuk kebutuhan penyimpanan data dalam jumlah besar, fitur keamanan data yang handal dan penggunaan oleh banyak pengguna, MySQL dan PosgreSQL untuk kebutuhan penyimpanan data di sistem operasi Linux dan Microsoft Access untuk penyimpanan data dalam jumlah yang tidak terlalu besar untuk memenuhi kebutuhan personal. Berbeda dengan 2 tahap sebelumnya, pada tahap penulisan kode program ini keterlibatan perusahaan tidaklah terlalu besar.
  1. Pengujian program. Pengujian software dilakukan untuk memastikan bahwa software yang dibuat telah sesuai dengan desainnya dan semua fungsi dapat dipergunakan dengan baik tanpa ada kesalahan. Pengujian software biasanya dilakukan dalam 2 atau 3 tahap yang saling independen, yaitu : pengujian oleh internal tim pengembang, pengujian oleh divisi Quality Assurance dan pengujian oleh pengguna di perusahaan. Dalam tahap ini, perusahaan harus memastikan bahwa kerangka / skenario pengujian software dibuat dengan lengkap meliputi semua proses, kebutuhan dan pengendalian yang ada di dalam dokumen analisa kebutuhan dan desain sistem.
  2. Penerapan program. Penerapan program merupakan tahap dimana tim pengembang menerapkan / meng-install software yang telah selesai dibuat dan diuji ke dalam lingkungan Teknologi Informasi perusahaan dan memberikan pelatihan kepada pengguna di perusahaan. Pada saat melaksanakan pelatihan perusahaan harus yakin bahwa semua karyawan benar-benar menguasai Sistem Informasi yang dibuat sesuai dengan tugas, kewenangan dan tanggung-jawabnya. Untuk mendukung penguasaan ini pada waktu operasional harian setelah pelatihan, perusahaan sebaiknya memastikan pengembang telah memberikan buku User Manual dari Sistem Informasi yang dibuat.
Berdasarkan kesepakatan yang dibuat sebelumnya, pada tahap ini perusahaan juga dapat meminta tim pengembang untuk menjelaskan secara detail kode program kepada staff Teknologi Informasi di perusahaan agar jika diperlukan pengembangan lebih lanjut di waktu yang akan datang dapat dilakukan sendiri oleh perusahaan. Hal ini biasanya dilakukan perusahaan-perusahaan besar yang memfokuskan staff divisi Teknologi Informasinya hanya untuk pemeliharaan sistem saja

Dengan memperhatikan keuntungan, konsekuensi dan mengikuti tahapan-tahapan yang ada di dalam metode Waterfall tersebut di atas dengan baik maka peluang perusahaan untuk mendapatkan Sistem Informasi yang berkualitas menjadi semakin besar. Semakin berkualitas Sistem Informasi yang diperoleh perusahaan berarti semakin besar pula daya saing dan peluang perusahaan untuk memenangkan kompetisi. Hal ini tidak lain karena pemrosesan informasi, pengendalian proses bisnis dan pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cepat dan akurat.

Memperhatikan hal tersebut, maka sudah sewajarnya di era yang sangat kompetitif ini perusahaan mendukung kegiatan operasional dan pengembangan bisnisnya dengan mempergunakan Sistem Informasi yang dibuat sesuai dengan proses bisnis dan kebutuhan perusahaan masing-masing.


  • Model Lifecycle untuk RAD

Model ini merupakan versi cepat dari waterfall, model ini menggunakan Joint Application Development  (JAD)  yang mana dalam model ini yang paling dibutuhkan oleh user adalah workshop JAD.

  1. Project Set-Up.
    Menampilkan apakah suatu proyek adalah memiliki dampak apapun sering sangat sulit, namun dengan menetapkan tujuan yang tepat di tempat pertama sehingga dalam dapat dibilang bahwa dalam perancangan interaksi Project setup di tempatkan dalam urutan pertama.
  2. JAD workshops.Sebagaimana telah disebutkan bahwa dalam model ini JAD workshop yang paling dibutuhkan, Aplikasi desain Bersama (JAD) adalah proses yang digunakan di daerah prototyping siklus hidup Metode Pengembangan Sistem Dinamis (DSDM) untuk mengumpulkan kebutuhan bisnis saat mengembangkan sistem informasi baru bagi perusahaan. "Proses JAD juga mencakup pendekatan meningkatkan partisipasi pengguna, mempercepat pembangunan, dan meningkatkan kualitas spesifikasi.Melalui workshop JAD pekerja pengetahuan dan spesialis IT yang mampu mengatasi kesulitan atau perbedaan antara kedua belah pihak mengenai sistem informasi baru. Lokakarya ini mengikuti agenda rinci dalam rangka untuk menjamin bahwa semua ketidakpastian antara pihak tertutup dan untuk membantu mencegah miskomunikasi.
  3. Iterative Design and Build ( Merancang dan membangun model)Dalam tahap ini sebuah aplikasi atau interface yang akan  dirancang, apa yang dibutuhkan user apa tujuan yang akan di capai.
  4. Engineer and Test FinallDalam alur kerja model ini Engineer and test finall merupakan tes akhir atau tahap dimana menjalankan aplikasi yang telah dirancang dan dibangun sebelumnya. 
  5. Implementation reviewPada alur kerja perancangan di model ini implementation review atau pelaksanaan tinjauan. Pada tahap ini apikasi yang telah dirancang dan di jalankan pada test akhir dilakukan peninjauan, yang mana berfungsi unuk melihat kesalahan dan memperbaiki nya sebelum di terima oleh user.

  • Model V (V-Model)



V-model dikembangkan di Jerman untuk aplikasi pertahanan. Didalam V-model terdapat 3 kompomen  kerja yang pokok yakni Project Definition yakni mendefenisian project apa yang akan dibuat, Time yakni waktu yang dibutuhkan dalam pengimplementasiannya dan Project Test And Integration atau pengujian dan integrasi project tersebut.

Contoh gambar V-Model:

Model ini berpusat pada user. Dimana pengulangan selalu dibutuhkan jika kebutuhan untuk user belum terpenuhi "ketidaktahuannya" tanpa harus memberikan software dengan lingkungan yang baru. Resiko pada setiap tahap dalam pengembangan dapat dikurangi dengan memahami kebutuhan user.

Didalam pendefenisian project terdapat aktivitas Concept Operation  (konsepsi project) yakni menentukan tujuan yang akan di capai dalam pembuatan project tersebut. Requirement and Architecture (persyaratan dan arsitektur) yakni harus dapat menjelaskan apa saja yang diinginkan dan diperlukan oleh user. Untuk itu diperlukan adanya psroses klarifikasi, perbaikan, penentuan kelengkapan, dan ruang lingkup. Sebagai masukannya dapat berupa dokumen persyaratan dan keluarannya adalah ketetapan persyaratan. Terdapat bermacam-macam persyaratan yang dapat dihasilkan :

- Fungsional : menjelaskan tentang apa saja yang dapat dilakukan oleh sistem
- Non fungsional : dapat berupa ukuran memori, jangka waktu respon.
- Data : data apa saja yang perlu disimpan dan bagaimana penyimpanannya.

Detailed Design yakni memperincikan desain sebuah aplikasi yang akan dibuat.
Selanjutnya setelah Project tersebut telah ditetapkan maka Diimplementasikan lah atau di jalankan. Selanjutnya dalam tahap Project Test and Integration aplikasi/software yang telah dilakukan Integration test and Verification yang mana dalam tahap ini aplikasi yang telah diimplementasikan di lakukan verifikasi atau ditinjuau kegunaan nya apakah sesaui dengan kebutuhan user.

Selanjutnya Operation and Maintenance yakni melakukan perbaikan atas apa yg telah di verifikasi dan di sesuaikan dengan kebutuhan user. Dan pada akhirnya dalam model ini akan dilakukan proses Verivikasi  dan Validitas kepada user apakah sudah bekerja sesuai dengan yang diharapkan dan apakah rancangan sesuai dengan apa nyang diinginkan.

  •  Model Rancangan Interaksi Sederhana

Pada model rancangan interaksi sederhana ini input atau masukan hanya memiliki satu titik. yang mana masukan tersebut diidentifikasikan apakah sesuai dengan kebutuhan, lalu didesain sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Setelah diDesain rancangan tersebut dibangun dan harus interaktif. Setelah itu barulah rancangan tersebut dievaluasi.

Evaluasi dapat dilakukan dimana saja, rancangan yang telah di evakuasi dapat kambali didesain ulang atau apakah rancangan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan user, maka alur tersebut akan terus berputar hingga pada tahap evaluasi tidak lagi terjadi kesalahan, baik dalam penetapan kebutuhan user maupun pendesainannya, sehingga pada tahap evaluasi terciptalah sebuah hasil akhir yang valid.

Contoh Gambar Rancangan Interaksi Sederhana:


  • Siklus Hidup Sistem

Dalam Siklus permodelan ini pengujian dilakukan terus menerus, tidak harus dikahir. Misalnya dimulai dari menentukan kosep desain (conceptual design ) dalam proses ini akan langsung terjadi evaluasi untuk langsung ternilai apakah sudah sesuai dengan kebutuhan user, bila belum maka akan terus berulang di evaluasi hingga benar-benar pas, selanjutnya apabila sudah pas, maka dari tahap evaluasi yang pertama akan lanjut ke proses yg selanjutnya yakni requirements/specification yakni memverifikasikan persyaratan rancangan tersebut, dan pada tahap itu juga langsung terjadi pengevaluasian seperti tahap pertama, dan selanjutnya akan tetap sama terjadi pada tahapan-tahapan selanjutnya yakni task analysis/fungsion analysis, pengimplementasian, prototyping hingga pada akhirnya terciptalah sebuah aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan user.
Intinya pada rancangan model ini pengevaluasian dilakukan disetiap tahapan tidak hanya pada tahapan akhir seperti model-model rancangan yang lainnya.